Sumedang ,Nextnews.id– Proyek revitalisasi gedung tahun 2026 di SLB Hikmah Mandiri di Desa Hariang, Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, menuai sorotan. Papan informasi proyek yang terpasang di lokasi diduga tidak mencantumkan nilai anggaran, memicu pertanyaan soal transparansi dan akuntabilitas.
Revitalisasi sekolah yang didanai APBN pada 2026 itu sebelumnya ditegaskan Kemendikdasmen harus berjalan transparan. Kementerian bahkan mengancam tindakan tegas terhadap penyelewengan dan mendorong pola swakelola.
Kepala Sekolah SLB Hikmah Mandiri, Selly Herdia, S.Pd, selaku penanggung jawab kegiatan membantah tudingan tidak transparan. Saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon milik Sekretaris Panitia, Adang Taryana, Selly menyebut pihaknya sudah menggelar rapat dengan guru, Babinsa, hingga kepala desa. “Tidak benar kalau saya dikatakan tidak transparan dalam kegiatan revit ini, karena sebelumnya juga kami sudah rapat dan diberitahukan kepada Babinsa dan kepala desa,” ujarnya.
Terkait papan proyek tanpa nilai anggaran, Selly beralasan pihaknya memang membuat dua papan. “Terkait papan proyek memang sengaja kami membuatnya dua, karena yang satu, yang ada nilai anggarannya kena hujan dan kotor hingga dipasang di bawah, dan satunya yang di depan memang tidak ada nilai anggarannya dan itu mutlak kesalahan kami,” jelasnya.
Sementara itu, Bendahara Kegiatan, Aning Karwati, mengaku tidak mengetahui pasti besaran anggaran yang diterima sekolah. “Saya selaku bendahara kegiatan revitalisasi gedung sekolah tidak tahu persis nilai anggarannya berapa, itu semua dipegang oleh kepala sekolah,” katanya.
Aning menambahkan, dirinya hanya diberi uang untuk keperluan belanja harian. “Bahkan saat pencairan anggaranpun saya hanya tandatangan saja, uang itu di ambil oleh kepala sekolah langsung dengan adik iparnya,” ungkap Aning.

Hal senada disampaikan Sekretaris Panitia Pembangunan, Adang Taryana. Ia mengaku tidak tahu pasti nilai anggaran. “Saya juga sama tidak tahu berapa anggarannya, itu urusan ibu kepala, saya takut salah kalau harus ngomong. Kami hanya menjalankan apa yang ditugaskan kepala sekolah kepada kami,” ujarnya.
Berdasarkan pantauan di lapangan, ditemukan dua papan proyek. Satu mencantumkan nilai anggaran, satu lainnya tidak. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan terkait pengelolaan dana bantuan revitalisasi pembangunan dan rehab gedung kelas di SLB Hikmah Mandiri.
